logo blog
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang saleh. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, berlian dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati. Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : Artinya: “(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad :15) Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan,cantik jelita, dan menggoda bagi para penghuni surga. Yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia. Yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi pilihannya Muhammad SAW. Maka dari pernyataan di ataslah penulis ingin mengkaji beberapa nikmat yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang berada dalam jalan yang di ridhoi-Nya atau yang dikenal dengan sebutan Ash-habul Yamin. Atau yang lebih spesifiknya tentang nikmat yang berupa isteri yang cantik nan jelita (bidadari) yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi orang-orang Ash-habul Yamin. 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah bentuk dan sifat bidadari yang digambarkan dalam surat Ar-Rahman ayat 56-78? 2. Bagaimanakah keadaan surga dalam pandangan surga menurut surat Ar-Rahman ayat 56-78? 1.3 Tujuan Penulisan 1.Tujuan yang pertama ingin memberikan sumbangsih ilmu kepada pembaca makalah ini meskipun masih banyak kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini. 2.Selanjutnya supaya menjadi ilmu yang bermanfaat bagi penulis dunia dan akhirat, dan menjadi motivasi bagi penulis dalam menjalankan kehidupan kedepannya. Untuk bisa menggapai kehidupan akhhirat seperti yang di cerminkan dalam surat Ar-Rahman yang akan penulis bahas. 3.Dan yang terakhir sebagai syarat dan kewajiban yang harus diselesaikan oleh penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir Semester I materi Bahasa Indonesia. Dengan dosen pembimbing: Hj. Siti Annijat Maimunah, M.pd 1.4. Manfaat Penelitian Dengan makalah ini penulis mengharap manfaat ilmu yang barokah kepada diri penulis sendiri dan bagi para pembaca makalah ini pada umumnya. Dan tentunya penulis juga mengharap agar makalah ini menjadi jalan untuk mendapat keridha’an dari Allah SWT. Dan dengan makalah ini penulis bisa mengetahui berbagai macam bentuk bidadari, dan keadaan surga yang Allah janjikan kelak di akhirat bagi penghuninya. Dan semoga kita semua bisa menjadi bagian Ahlul-Jannah. 1.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup penulisan makalah meliputi surat Ar-Rahman ayat 56 sampai ayat 78, yang menerangkan tentang bentuk-bentuk bidadari yang Allah janjikan kepada penghuni surga, dan keadaan surga yang berupa nikmat yang ada di dalamnya. Yang tidak bisa di pikirkan kenikmatannya oleh pikiran kita. 1.6 Batasan Istilah Secara sadar, di dalam penulisan makalah ini terdapat banyak sekali istilah-istilah yang sulit di mengerti oleh orang awam, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi penulis untuk menerangkan istilah-istilah tersebut secara rinci, agar makalah ini bisa diterima oleh semua kalangan. 1.7 Kerangka Teori Kerangka teori merupakan penggabungan antara kerangka pemikiran penulis dengan para pengarang kitab dan para mufassir ayat Al-Qur’an. Atas dasar itulah penulis menggabungkan kerangka pemikiran penulis dengan para pengarang kitab tafsir seperti Tengku Muhammad, Jalaluddin, dan sekaligus dengan para perawi Hadits seperti Al-Bukhori, dan Muslim serta para sahabat Tabi’ien. Dan dalam mengambil pendapat, penulis banyak menggabungkan surat Ar-Rahman dengan ayat-ayat lain yang ada selain di dalam surat Ar-Rahman. BAB II DESKRIPSI ISI PESAN Ar-Rahman merupakan surat makkiyyah yang terdiri dari 78 ayat, Berikut ini table Deskripsi pesan: No Isi Pesan Indikator Tafsir ayat Al-Qur’an Interpretasi 1. Gambaran tentang bentuk dan sifat bidadari yang mendiami surga Allah. Serta bentuk surga menurut surat Ar-Rahman Dengan surat ini kita dapat mengetahui bentuk-bentuk dan sifat bidadari yang Allah janjikan kepada orang-orang penghuni surga. Dan memahami bentuk dan isi surga itu sendiri. 56.Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. 57.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 58.Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. 59.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 60.Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). 61.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 62.Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi[1447] 63.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 64.Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya. 65.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 66.Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar. 67.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 68.Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima. 69.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 70.Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik. 71.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 72.(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah. 73.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 74.Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. 75.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 76.Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. 77.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 78.Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. 56-61 dan 70-78. Di dalam surga-surga itu terdapat gadis-gadis jelita yang hanya melihat kepada suaminya saja. Mereka semua belum pernah dijamah, baik oleh jin ataupun manusia. Gadis-gadis itu tiap setelah disetubuhi kembali perawan. Gadis-gadis surga itu sebagai permata delima yang bening dan bagaikan marjan yang putih berseri. Maha agung Allah SWT. 62-69. Kedua Surga ini dibawah dua Surga sebelumnya dalam (hal) tingkatan, keutamaan, maupun kedudukannya. Demikian yang ditegaskan melalui nash al-Quran. Dimana Allah berfirman "wa min duunihima jannataan" "Dan selain dari dua Surga itu ada dua Surga lagi." Pembahasannya telah diuraikan sebelumnya, bahwa bejana dua Surga dan segala yang ada di dalamnya terbuat dari emas dan bejana dua Surga lainnya terbuat dari perak. Dua Surga pertama adalah untuk orang-orang yang mendekatkan diri (al-Muqarrabuun), sedangkan dua Surga berikutnya adalah milik Ash-haabul Yamin. BAB III PEMBAHASAN 3.1 Bentuk dan Sifat Bidadari Sesungguhnya diantara kenikmatan surga yang paling besar yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi para hamba-Nya yang beriman, dan dirindukan oleh jiwa, dikejar oleh hati adalah bidadari. Allah SWT telah mensifati mereka dengan sebaik-baiknya sifat dan seindah-indahnya tabi’at, memancing selera orang yang mengejarnya sehingga seakan-akan orang yang beriman melihat secara nyata. Allah berfirman: Artinya: Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman:56-61) Dan disebutkan juga dalam surat yang sama tentang bentuk bidadari yang Allah gambarkan dalam kitab suci al-qur’an: Artinya: Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia (Ar-Rahman:70-78). Gambaran Bidadari dalam Hadits Ath-Thabarany menuturkan, kami diberitahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, “Saya berkata,”Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli”.” Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.” Al-Hasan dan para ulama tafsir berkata: dalam kebeningan permata yakut dan putihnya marjan”. Allah berfirman: Artinya: dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik (al-waqi’ah:22-23). Al-Hur adalah bentuk jamak dari huro’ yang berarti wanita yang muda, cantik dan jelita, putih, bermata hitam. Aisyah Ra berkata: kulit putih adalah setengah dari kecantikan. Dan Umar Ra berkata: apabila seorang wanita telah memiliki kulit yang putih dan rambut yang bagus maka telah sempurna kecantikannya. Para ulama tafsir mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita yang menawan, memiliki rasa cinta yang dalam, genit, manja, dan penyayang. Semua ini adalah kata-kata yang diungkapkan oleh para ulama. Allah SWT telah memberikan pada bidadari kebaikan dalam penciptaan dan akhlak, kecantikan wajah, kulit halus yang mengagumkan pikiran dan lisan tidak mampu mengungkapkannya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari Abi Hurairah Ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “kelompok pertama yang akan memasuki surga akan memiliki wajah yang sama seperti bulan purnama, mereka tidak meludah, ingusan dan tidak pula berak padanya, bejana-bejana mereka di dalamnya adalah emas, sisir-sisir mereka dar emas dan perak, tempat bukhur (gahru) mereka terbuat dar kayu yang sangat harum, mereka dari minyak misk, bagian dalam betisnya tampak dari balik dagingnya karena kecantikannya, tidak ada perselisihan antara mereka dan tidak pula terjadi pertengkaran, hati mereka satu, mereka memuji kepada Allah SWT pada waktu pagi dan petang”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhori di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik Ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: pergi pada waktu pagi di jalan Allah atau pada waktu petang lebih baik dari dunia dan seisinya, dan pendeknya anak panah salah seorang diantara kalian dari surga atau tempat cemetinya lebih baik dari dunia dan seisinya, dan seandainya seorang bidadari dari surga turun dan menghampiri penghuni bumi maka dia akan menerangi antara langit dan bumi dan akan menyebarkan semerbak bau yang harum, dan selendang yang menutupi kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya”. “Subhanallah” Dan bidadari itu terbebas dari segala kotoran dan sesuatu yang menjijikkan baik lahir maupun batin. Allah SWT berfirman:      •  •                                 Artinya: dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan “inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (Al-Baqoroh:25) Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa Al-Muthaharah berarti suci dari haid, kencing, nifas, berak, ingus, ludah dan setiap kotoran serta perkara Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata: bersamaan dengan itu batin mereka juga suci dari kekejian dan ucapan yang kotor, pandangan mereka suci dari keinginan kepada selain suami dan pakaian mereka suci dari kotoran yang bisa mengotorinya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau : “ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik dari pada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik Radliyallahu 'anhu) Hidung bidadari ialah hidung yang paling indah di seluruh jagad raya, serta bersih dari segala kotoran dan penyakit. karenanya, Allah menggambarkan bidadari sebagai istri yang ‘Muthahharah” atau yang disucikan. menurut Ibnu Abbas Ra, disucikan dari segala kotoran dan penyakit. Abu Hayyam dalam tafsirnya, Al-Bahrul Muhith menyatakan, “mereka sebaya umurnya, bentuk tubuh, serta kecantikan. karena mereka diciptakan oleh Allah dalam keadaaan seperti itu (tanpa ada proses kelahiran).” Pipi-pipi-Nya yang merona sangat didamba oleh setiap wanita dunia karena akan menambah kecantikan dan kemanisannya. “Penghuni surga bisa bercermin melihat wajahnya di pipi bidadari yang mulus itu.”(HR. Al-Baihaqi & Al-Hakim). Anas bin Malik menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “seandainya bidadari meludah pada tujuh samudra, niscaya air laut akan tawar karena keindahan dan kemanisan mulutnya, karena bidadari terbuat dari za’faran.”Kidung-kidung yang dinyanyikan bidadari sudah tentu keluar dari mulut yang indah nan suci, terdengar sangat merdu. Dalam dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” 3.2 Keadaan Surga   •       •                   •           Artinya: Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik. (Ar-Rahman:62-70). Menurut pendapat Ibn Juraij, surga itu ada empat buah. Dua untuk orang-orang yang didekatkan kepada tuhan, yang di dalamnya terdapat buah-buahan yang berpasang-pasangan dan dua mata air yang mengallir. Dua surga lagi untuk Ash-habul Yamin yang di dalamnya terdapat buah-buahan, kurma, dan buah delima. Ada yang menjelaskan bahwa surga yang telah dijelaskan sebelumnya adalah surga Adn dan Na’im, sedangkan dua surga lainnya adalah Firdaus dan Ma’wa. Dua surga yang disebutkan di atas mempunyai berbagai macam buah-buahan dan beraneka warna pepohonan. Mereka dapat memilih buah mana yang akan dipetiknya. Pada masing-masing surga terdapat mata air. Menurut pendapat Al-Hasan, surga yang pertama dinamakan salsabil dan yang kedua dinamakan tasnim. Di dalam kedua surga itu terdapat buah yang berpasang-pasangan, ada yang kering ada pula yang basah, tetapi sama rasanya, tidak seperti buah di dunia yang berbeda rasa antara buah yang kering dan buah yang basah. Di dalam dua taman itu terdapat buah-buahan kurma dan buah delima. Dikhususkan kurma dan delima saja dalam sebutan ini, padahal keduanya juga masuk ke dalam kata buah-buahan, mengingat kurma dan delima mempunyai keistimewaan dan karena buah itu bisa diperoleh pada musim gugur. Dan di taman itu terdapat gadis-gadis yang baik pekertinya dan cantik rupanya. Tegasnya, baik batinnya dan indah lahiriahnya. Mereka yang mendapatkan dua surga itu duduk beralaskan permadani yang lapis dalamnya terbuat dari sutera yang tebal. Apabila lapisan dalamnya terbuat dari sutera yang tebal, maka lapisan luarnya tentu lebih indah lagi. Dan buah-buahan dari kedua surga itu dekat kepada mereka. Kapan saja mereka menghendaki, mereka dapat mengambilnya, baik sambil duduk maupun berdiri. Sungguh surga itu tidak dapat di gambarkan secara jelas melalui akal manusia. Karena surga merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hambanya yang saleh. Dan surga merupakan tempat yang sangat mulia dan tempat orang-orang yang mulia. BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Setelah pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan bentuk bidadari dengan sedemikian rupa, kecantikannya, tingkah lakunya, maupun kesuciannya sungguh sangat mulia. Dan apabila kita mendeskripsikan bidadari dengan akal kita sungguh sangat tidak masuk akal, karena bentuk bidadari yang Allah ciptakan sangat indah dan tidak bisa di capai keindahan-Nya melalui akal manusia. Begitupun dengan tempat bidadari (surga) yang biasa di impikan oleh manusia yang hidup di dunia ini pada umumnya, sungguh sangat indah dan tidak ada batasan apapun di dalamnya. Kita bebas bergerak dan mengambil apa-apa yang ada di dalamnya. Karena Allah menghalalkan bagi penghuninya. 4.2 Saran Saran saya agar dalam penulisan makalah ini selanjutnya, hendaknya di beritahukan dahulu jauh-jauh sebelumnya, agar mahasiswa tidak terkejut dan tidak kekurangan bahan. Dan penulisan makalah ini juga sangat berdekatan dengan Ujian Akhir Semester I, pastinya sudah sangat mengganggu mahasiswa secara umumnya dan penulis untuk berkonsentrasi belajar. DAFTAR PUSTAKA  Hasbi Muhammad Tengku, “Tafsir Al-Qur’an Majid, An-Nuur 5”. 2003. Pustaka Rizki Putra, Semarang  Nasib, Muhammad. “Tafsir Ibnu Katsir”. 1989. Gema Iinsani Press. Jakarta  Abdullah Bin Amin “Bidadari” Islamhouse. Com  http. WWW. Islamhouse.com  Alamsjah Ratu Perwiranegara “Al-Qur’an Dan Terjemahannya”, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an. 1978


EmoticonEmoticon