Saat itu, aku bingung. Ada sebuah info seleksi beasiswa akan diselenggarakan di IAIN Sby. Aku bingung akan ikut atau tidak. Kebingunganku letak kampus yang cukup jauh. Dan keada ekonomi keluarga yang tak terlalu bagus.
Aku pun menarik kesimpulan untuk melakukan ritual sholat istikharah. Aku tunggu semua kegiatan pondok pesantren selesai dan menunggu agak malam untuk melaksanakan ritual tersebut.
Sekitar jam 12 malam, aku mengambil wuduk. Membawa sajadah danmembawa selimut ke mussolla PPRU2. Aku lakukan dua rakaat solat istikhoroh membaca doa dan merebahkan diri untuk tidur.
Mimpi ku.
Aku berjalan diantara dua bukit, dibawah kakiku ada aliran sungai. Aku berjalan mengikuti arus air yang mengalir kelembah. Aku menaiki tapak demi tapak, ada beberapa gundukan, ada beberapa bebatuan besar yang aku injak, aku terus megikuti arus air itu. Aku tak banyak meronta. Tak banyak berkomentar, aku hanya melakukan perjalanan itu.
Setelah perjalanan yang cukup panjang. Aliran air tersebut menjadi terjun kebawah. Aku menoleh kekiri dan kekanan. Aku tak tahu harus kemana lagi. Aku melihat air terjun itu sangat dalam. Bahkan dataran di bawahnya tak kelihatan oleh mataku.
Aku pun melentangkan tanganku. Aku terus melangkah. Aku seakan-akan terbang diantara asap putih dan embun kabur. Aku tak dapat melihat apapun kecuali warna asap yang sangat putih. Aku pun terbangun dari tidurku.
Aku bingung mentakwilkan mimpi ku sendiri. Yang aku tahu, arti air ketika bermimpi adalah ilmu. Aku pun menarik kesimpulan aku menjalani ilmu. Tetapi, aku tak mendapatkan jawaban yang aku inginkan.
Apakah aku ikut seleksi beasiswa di IAIN Surabaya adalah pilihan yang tepat?
Aku ingat, aku pernah melakukan istikharah tentang persoalan asmara. Cinta monyet yang bisa membuat aku galau. Dalam istikharah tersebut aku disuruh ke pak Mahdari, seorang guru yang paling dianggap killer.
Aku pun mencari seseorang untuk mentakwilkan impi ini. Guru pertama yang ada dalam fikiranku adalah Kyai Qosim. Tetapi pada saat itu kyai Qosim sedang sakit, aku pun tak bisa menceritakan mimpi ku pada orang secara asal-asalan. Aku memilih orang yang paling tepat buatku.
Tiba-tiba terfikirkan, KH. Ja'faris Sodiq muncul dalam bayanganku. Aku bertanya pada diri sendiri. Apa aku benar-benar akan bertanya pada Gus Faris? Dari pada bingung ku tetap berkelanjutan. Mana kampus terbaik untukku? Haruskah aku ikut teman-teman tes seleksi di IAIN Surabaya?
Akhirnya aku putuskan, jika tak mendapatkan jawaban yang tepat aku tak akan tetap bingung dengan pertanyaanku ini. Aku pun menarik kesimpulan, mau gak mau aku harus mendapatkan jawaban atas pertanyaanku ini.
"Okey... I will do it..." Dalam hati berkata demikian. Aku pun merasa tenang dengan keputusanku tersebut. Aku juga ingat perkataan guru, bahwa salah satu jawaban dari Istikharah adalah ketika kita merasa tenang dengan jawaban tersebut.
Aku merasa tenang dengan rencana bertanya langsung pada Gus Faris. Aku pun bertanya pada beliau keesokan harinya.
Setelah sholat maghrib, saat semua teman-temanku ngaji al-quran. Aku melihat ada gus faris di kantor pondok RU 2. Aku pun memberanikan diri menghampiri beliau.
Kira-kira pembicaraan kita demikian:
"Assalamuaikum gus"
"Waalaikum Salama, bede apah"
"Gini gus, semalem saya istikharah, jawaban istikharah tersebut saya disuruh sowan sama samean"
"Kamu mau apa?" jawab gus faris kalem.
"Saya punya rencana mau ikut seleksi beasiswa ke IAIN Surabaya besok"
"Ayahmu kerjanya apa?" Gus Faris betanya.
"Ayahku jadi makelar saat ini gus"
"Jadi gini, biaya hidup di Surabaya itu gak sama kayak di sini, di Malang, kamu yakin mau ikut beasiswa di Surabaya"
"Nah itu gus, yang saya bingung kan hingga saya istikharah gus" jawabku.
"Kamu coba cari aja tempat kuliah di Malang!"
"Tapi, yang di Surabaya ini beasiswa gus" aku coba buat meyakinkan kebingunganku.
"Coba kamu ke Pak Misbah, dia kan dapat beasiswa juga toh?"
"Ngeh gus, sendiko dawuh" jawabku.
"Soalnya gini, persoalan ekonomi itu jadi salah satu penentu kesuksesan kuliah, kalau ayahmu ekonomi nya kurang bagus, lebiha baik cari yang dimalang aja, nanti minta bantuan sama pak Misbah, dia kan paham tentang peekuliahan di Malang".
Saya hanya, mendengarkan sambil angguk-angguk. Sesekali bilang, " enggi". Banyak sekali pembicaran antara saya dan gus faris. Hingga adzan isya' pun dikumandangkan. [Bersambung....]
EmoticonEmoticon