logo blog

Hidup Itu Kebebasan

Ilustrasi dari google
Pagi itu (9/Maret) tak ada yang sepesial. Sama seperti pagi-pagi yang lain. Jam di HP menunjukkan jam 06.38, warung kopi baru saja buka. Pemilik warung pun sedang menggoreng pisang, ketela dan beberapa gorengan yang lain.

Saya duduk di meja dapur warung, bersama paman dan 2 pelanggan warung. Kita duduk di meja dapur, sebab di warung belum ada gorengan dan masih sepi. Tujuan saya ngopi disitu hanya untuk menghabiskan waktu menunggu jam Bank Jatim buka.

Biasanya Bank itu buka sekitar jam 7:30. Saya mau ke Bank untuk mengurusi uang paman yang belum keluar. Uang gaji paman harus tertahan, entah itu disebabkan kelalaian atau disebabkan oleh kerusakan ATM BRI.

Kita berbicara banyak hal. Diantara topik menarik dari meja kopi itu prihal hidup dan mati. Hidup itu mung mampir ngopi. Mati itu hilangnya kebebasan terbesar manusia.

Mati itu bagai dipasung. Suatu keadaan ketika kita tak bisa bergerak bebas. Kebebasan kita tak berguna lagi. Kita layaknya manusia yang terpasung. Maklum, teman ngopi yang berbicara seperti itu pernah merasa ditahan lantaran kerja nyupir sambil membawa sajam (senjata tajam).

Ketika menghayalkan berada di dalam kuburan. Manusia memang tak bisa melakukan apapun. Sendirian. Gelap gulita. Tak ada makanan apapun. Ketika itu manusia tinggal dengan ruangan yang sangat sempit. Lebarnya tak cuma sekita setengah meter. Ditutupi tanah yang keras.

Beberapa menit yang lalu, saya membayangkan ketika tinggal dalam kuburan. Tiba-tiba hidup kembali, bagaikan bangun dari tidur. Aku jelas akan berusaha keluar dari dalam kubur. Saya pun melakukan hal sangat konyol.

Keluar rumah, ku pukulkan tanganku pada tanah sekali saja. Sakit banget ternyata. Aku membayangkan ketika aku tiba-tiba terbangun bagaimana aku bisa keluar. Tanganku tak mampu membuka tanah sedalam dua meter itu.

Hanya dua meter, tapi aku tak akan sanggup untuk keluar dari liang lahat itu. Ketika aku pukulkan tanganku, aku sadar. Tanah kuburan tak akan segembur tanah di samping rumah. Pastinya lebih padat dari tanah samping rumah.

Itukah arti kebebasan hidup. Kita manusia hidup bebas. Bebas bekerja, bebas mencintai seseorang, bebas merasakan apapun, kita bebas melaksanakan apapun. Baik itu yang diperbolehkan atau yang dilarang oleh hukum.

Hidup itu kebebasan terbesar manusia. Ketika mati lalu dikuburkan tak akan lagi ada kebebasan yang dimiliki manusia. Manusia akan hidup dalan kuburan. Coba sesekali melihat seberapa besar kuburan itu. Coba bayangkan kita tinggal di dalam sana. Mampu bertahan berapa lama kita membayangkan nya?

Kehidupan itu kebebasan. Manfaatkan kehidupan itu! Manfaatkan kebebasan itu!! []


EmoticonEmoticon