logo blog

Management Berita Televisi, (Angkutan Online Vs Angkutan Umum)

Siang yang cerah, kududuk santai di depan televisi. Acara siang hari mayoritas menayangkan berita
teraktual. Ada satu berita yang membuatku tertarik untuk menganalisis berdasarkan diskusi dalam otakku. Berita itu berkata, "Angkutan umum melakukan aksi mogok berkerja, ratusan penumpang terlantar".

Berita itu menayangkan supir angkutan umum melakukan aksi mogok. Serta menunjukkan, beberapa penumpang berjalan di pinggir jalan. Bukan tuntutan supir yang ditampilkan, tetapi lebih fokus pada korban aksi mogok tersebut. Mungkin angel ini menguntungkan bagi perusahaan televisi tersebut.

Beberapa tahun belakangan ini, sering sekali supir angkutan umum melakukan aksi mogok. Tak kan ada asap jika tak ada api. Tak kan ada aksi tampa adanya tuntutan. Apa sebenarnya tuntutan mereka?

Kita tahu, tahun 2015, 2016 dan 2017, banyak sekali angkutan umum online bermunculan. Seperti Uber, Go-jek, Ok-Jek, Taksi online dan lain-lain. Jasa angkutan yang disokong dengan teknologi termutahir. Akibatnya angkutan umum, yang dulunya mendapatkan banyak penumpang, berkurang. Semakin berkurang penumpang, semakin kecil pula penghasilan para supir angkutan.

Dalam tulisan ini mencoba membandingkan kekuatan antara angkutan umum konfensional dengan angkutan umum berbasis online. Bukan tidak mungkin adanya perkembangan teknologi menjadikan masyarakat berinovasi terhadap angkutan umum. Bermunculanlah angkutan online tersebut.

Dalam management kapitalis atau bisa dikatakan perusahaan besar berdasarkan modal besar. Modal sesungguhnya bukan uang, tapi kemampuan inovasi. Membuat bisnis usaha yang telah ada dirubah dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi baru.

Bukan berarti tak ada korban dari inovasi tersebut. Angkutan umum yang telah ada (sebelum muncul nya angkutan online) mereka teralienasi atau tersisihkan. Yang jelas, semua itu kembali pada pilihan masyarakat umum. Entah mau menggunakan jasa angkutan umum konfensional atau malah memilih angkutan online.

Dalam managemen redaksi, ada namanya framing. Suatu berita yang bisa diambil sebuah angel dan menghilakan fakta lapangan yang dianggap tak mendukung angel tertentu. Framing sendiri berasal dari kata frame bisa disebut sebagai bingkai berita. Sebuah olahan berita terhadap fakta sehingga diambil sebuah angel tertentu.

Dalam perencanaan media masa berbasis perusahaan pers. Pastinya tujuan utamanya adalah bisnis. Menghasilkan sesuatu keuntungan bagi perusahaan. Dari situ kita akan bisa mengetahui penyebab berita bisa berjudul apapun.

Kita coba kembali pada berita, "Supir angkutan umum melakukan aksi mogok, ratusan penumpang terlantar". Dalam berita ini, dimunculan sebuah korban yaitu penumpang yang terlantar. Apa tujuan perusahaan pers?. Sudah jelas mencari keuntungan. Kenapa korban dari berita ini adalah penumpang??

Dalam sebuah aksi, pahami dulu tuntutan nya. Angkutan umum ini merasa tersisihkan oleh adanya angkutan online. Dalam berita ini jelas lebih menguntungkan angkutan online. Tujuan berita ini supaya perusahaan angkutan online bisa pasang iklan dalam setasiun televisi tersebut.

Penulis memiliki persepsi tersebut, sebab sudah banyak sekali perusahaan berbasis online mengiklankan usahanya pada setasiun televisi. Tapi hingga saat ini, belum menemukan mengiklankan pada televisi. Target managemen televisi adalah mendapatkan iklan angkutan online.

Akhirnya, kita ambil kesimpulan awal. Setiap perusahaan selalu mencari keuntungan. Siapa yang menguntungkan bagi perusahaan itulah yang dibela. Jadi jangan heran jika acara berita televisi memilih angkutan online yang diunggulkan ketika berkompetisi dengan angkutan umum biasa. []

Baca juga!!

Pajak naik? Saya gak akan bayar pajak