Setiap manusia tercipta dengan kemampuannya masing-masing.
Kecerdasan seseorang juga sessuai dengan keahliannya. Jadi tidak mengherankan
jika beberapa dosen menuntut mahasiswanya untuk memiliki kecerdasan terhadap mata
kuliah yang diampunya. “mahasiswa harus cerdas” kata-kata tersebut kadang
sering terdengar.
Mahasiswa dituntut oleh dosennya menjadi cerdas. Bila
mahasiswa cerdas siapa yang akan diuntungkan. Tidak lain dan tidak bukan, dosen
itulah yang diuntungkan. Dosen menjadi mudah dalam mengajar atau dosen tidak
perlu banting tulang. Jika objek dosen memiliki
kecerdasan diatas rata-rata. Dia akan membusungkan dada dan berkata “ini
barumahasiswaku”. Dosen pun akan beranggapan jika dirinya telah berhasil
mengajar mahasiswanya.
Sebanarnya apa sih arti kata cerdas tersebut? Jika cerdas
dilihat dari sisi dosen maka bisa diartikan bahwa mahasiswa menguasai mata
kuliah yang diajarkan olehnya. Ketika dosen bertanya selalu dijawab sesuai
dengan keinginannya. Jawabannya tidak pernah keluar dari yang dipelajari oleh
dosen. Serta memiliki tingkat kotemporersi yang tinggi.
Kecerdasan yang dikatakan oleh dosen akan selalu bersifat
subjektif objektif atau objektif yang subjektif. Sebab yang memberi tuntutan
adalah dosen. Jadi tidak dipungkiri jika kecerdasan itu bersifat subjektif.
Pengukurnya dari apa yang dipelajari oleh dosen. Dari buku-buku yang dibaca
terlebih dahulu oleh dosen. Serta peroblematika yang dihadapi oleh dosen.
Dengan kata lain, tidak ada pengukuran kecerdasan dari sudut pandang mahasiswa
secara mandiri.
Semakin banyak bacaan dosen semakin banyak tuntutan darinya.
Tampa disadari pemberi tuntutan terlamapu berat bagi mahasiswanya. Karena mahasiswa belum memiliki masa yang
sama dengan dosen tersebut. Dengan hal tersebut mengakibatkan tuntutan semakin
besar. Karena tolak ukurnya egoisme dosen. “Mahasiswa harus cerdas”.
Tidak dipungkiri lagi, jika didalam kelas sering dosen menguasai
kelas. Berbagai jenis pola pikir mahasiswa seakan tidak ada apa-apanya. Berbagai
jenis ide tak dikubris. Hal tersebut berakibat terhadap kecerdasan mandiri
mahasiswa teracuni oleh pola pikir dosen. Hal tersebut terbukti dengan adanya
berbagai persoalan yang terlimpahkan terhadap dosen. Kecerdasan mahasiswa
teralienasi.
Entah jika terdapat pertanyaan dari dosen, apakah mahasiswa
bisa menjawab sesuai dengan keinginan dosen? Jika sesuai denga egoisme dosen
maka dia cerdas. Jika tidak sesuai, maka dia bodoh. Penjajahan era modern ini namanya. Kecerdasan
secara alamiah mandiri berbeda dengan kecerdasan yang dipaksakan. Kecerdasan
mandiri lebih berarti dari pada kecerdasan yang dipaksakan.
Semoga dosen seperti ini tidak banyak mengajar.
Hehehe.. maaf kalau tersunggung yaa!!