logo blog

Kecerdasan mahasiswa vs Kecerdasan egois

Setiap manusia tercipta dengan kemampuannya masing-masing. Kecerdasan seseorang juga sessuai dengan keahliannya. Jadi tidak mengherankan jika beberapa dosen menuntut mahasiswanya untuk memiliki kecerdasan terhadap mata kuliah yang diampunya. “mahasiswa harus cerdas” kata-kata tersebut kadang sering terdengar.
Mahasiswa dituntut oleh dosennya menjadi cerdas. Bila mahasiswa cerdas siapa yang akan diuntungkan. Tidak lain dan tidak bukan, dosen itulah yang diuntungkan. Dosen menjadi mudah dalam mengajar atau dosen tidak perlu banting tulang. Jika objek  dosen memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Dia akan membusungkan dada dan berkata “ini barumahasiswaku”. Dosen pun akan beranggapan jika dirinya telah berhasil mengajar mahasiswanya.
Sebanarnya apa sih arti kata cerdas tersebut? Jika cerdas dilihat dari sisi dosen maka bisa diartikan bahwa mahasiswa menguasai mata kuliah yang diajarkan olehnya. Ketika dosen bertanya selalu dijawab sesuai dengan keinginannya. Jawabannya tidak pernah keluar dari yang dipelajari oleh dosen. Serta memiliki tingkat kotemporersi yang tinggi.
Kecerdasan yang dikatakan oleh dosen akan selalu bersifat subjektif objektif atau objektif yang subjektif. Sebab yang memberi tuntutan adalah dosen. Jadi tidak dipungkiri jika kecerdasan itu bersifat subjektif. Pengukurnya dari apa yang dipelajari oleh dosen. Dari buku-buku yang dibaca terlebih dahulu oleh dosen. Serta peroblematika yang dihadapi oleh dosen. Dengan kata lain, tidak ada pengukuran kecerdasan dari sudut pandang mahasiswa secara mandiri.
Semakin banyak bacaan dosen semakin banyak tuntutan darinya. Tampa disadari pemberi tuntutan terlamapu berat bagi mahasiswanya.  Karena mahasiswa belum memiliki masa yang sama dengan dosen tersebut. Dengan hal tersebut mengakibatkan tuntutan semakin besar. Karena tolak ukurnya egoisme dosen. “Mahasiswa harus cerdas”.
Tidak dipungkiri lagi, jika didalam kelas sering dosen menguasai kelas. Berbagai jenis pola pikir mahasiswa seakan tidak ada apa-apanya. Berbagai jenis ide tak dikubris. Hal tersebut berakibat terhadap kecerdasan mandiri mahasiswa teracuni oleh pola pikir dosen. Hal tersebut terbukti dengan adanya berbagai persoalan yang terlimpahkan terhadap dosen. Kecerdasan mahasiswa teralienasi.
Entah jika terdapat pertanyaan dari dosen, apakah mahasiswa bisa menjawab sesuai dengan keinginan dosen? Jika sesuai denga egoisme dosen maka dia cerdas. Jika tidak sesuai, maka dia bodoh.  Penjajahan era modern ini namanya. Kecerdasan secara alamiah mandiri berbeda dengan kecerdasan yang dipaksakan. Kecerdasan mandiri lebih berarti dari pada kecerdasan yang dipaksakan.
Semoga dosen seperti ini tidak banyak mengajar. Hehehe..  maaf kalau tersunggung yaa!!