Dalam sebuah
teori, syukur dibagi menjadi dua. Syukur dengan ucapan dan syukur dengan
perbuatan. Syukur sendiri berarti berterimakasih.
Syukur
dengan ucapan biasa kita lakukan ketika kita mendapatkan sebuah rizki. Atau
penggunaannya ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Perakteknya
sudah sangat sering kita lakukan dan sudah banyak orang mengetahuinya.
Misalnya, ketika Mendapatkan sebuah nilai yang baik dalam sebuah ujian,
"alhamdulilah aku berhasil". Ketika kita diberi sesuatu oleh teman,
kita "makasih yaa" kepada
teman kita. Akan tetapi tidak banyak orang memperaktekkan syukur dengan
perbuatan.
Syukur
dengan perbuatan ini lebih besar dampaknya pada diri kita sendiri. Ketika kita
diberi rizki akal, kita menggunakan akal itu dengan sebaik-baiknya, menjaganya,
merawatnya, sehingga kita bisa berfikir dengan jernih, kita bisa menjadi
cerdas.
Semisal
kita diberi nikmat kesempatan, kita memanfaat kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Kita mempergunakan kesempatan itu untuk mendapatkan kesempatan yang lain. Kita
memaksimalkan kesempatan yang kita miliki.
Contoh
lagi, kita diberi kesempatan untuk belajar bahasa inggris, kita bersyukur
dengan memanfaatkan kesempatan belajar itu dengan sebaik-baiknya, sehingga kita
mahir dalam berbahasa inggris, kita bisa berbicara bahasa inggris, kita bisa
menulis, memahami bhasa ini. Akhirnya kita bisa lebih mudah memahami film dalam
bahasa inggris, kita bisa keluar negri dengan bahasa inggris, kita bisa
mendapatkan beasiswa dari kemahiran bahasa inggris tersebut.
Setiap
syukur itu bisa mendapatkan nikmat yang lain. Kesempatan yang telah kita
laksanakan dengan sebaik-baiknya akan menyebabkan datangnya kesempatan yang
lebih besar. Kesempatan yang lebih menabjubkan dari kesempatan sebelumnya.

EmoticonEmoticon