Keberagaman selalu
menjadi ciri khas masyarakat modern. Warna warni itu harus diakui dan
dipelihara sebagai bentuk toleransi. Tidak boleh individu atau sekelompok orang
memaksakan kehendaknya sendiri. Perbedaan itulah ciri khas masyarakat
berdemokrasi. Bahkan masyarakat modern memiliki anggapan bahwa perbedaan
sebagai sesuatu yang indah. Akan tetapi, dibalik keindahan itu terdapat
tantangan yang tidak mudah dihadapi, terutama oleh para
pemimpinnya. Dilain pihak, berdemokrasi berlebihan juga memiliki resiko
sedemikian berat.
Pemimpin akan dianggap
berhasil manakala mampu merumuskan visi, misi, dan tradisi lalu
kemudian diikuti oleh semua yang sedang dipimpinnya. Proses untuk
mencapai tujuan akan semakin cepat terlaksana ketika semua potensi digerakkan untuk
menuju sasaran yang sama. Begitu pula sebaliknya, manakala upaya
mempersatukan tersebut gagal dilakukan, maka tugas itu semakin
berat. Apalagi di antara kelompok yang berbeda saling menganggu dan menghambat
proses. Itu menjadi salah satu gambaran komonitas berjalan di tempat bias
dikatakan setaknan. Sebab, potensi atau kekuatan akan habis hanya untuk meredam
akibat negatif dari perbedaan yang mengganggu.
Oleh sebab itu,
para ahli managemen mengajarkan agar para pemimpin merumuskan visi, misi,
dan perencanaan yang jelas. Dengan tujuan itu maka semua kekuatan
bisa disatukan untuk meraih tujuan yang dikehendaki bersama.
Organisasi yang berhasil maju biasanya diawali oleh keberhasilan pemimpinnya.
Sang pemimpin mampu menyatukan semua kekuatan yang berbeda. Begitu pula sebaliknya,
kegagalan selalu diwali oleh adanya konflik yang tidak produktif. Masing-masing
kelompok saling menjatuhkan serta mencari kemenangan untuk mencapai
keuntungan sendiri.
Pada kepemimpinan
Presiden Soeharto, yang dikenal dengan zaman orde baru, perbedaan tidak terlalu
diberi ruang. Bahkan hingga menyangkut politik sekalipun. Partai politik
diatur sedemikian rupa sehingga hanya menjadi tiga partai politik saja,
yaitu Golkar, PDI, dan PPP. Ketiga partai politik itupun sebenarnya
dibuat seragam, agar tidak terjadi perbedaan yang terlalu mencolok.
Keseragaman itu, setidak-tidaknya menyangkut azasnya. Pada waktu itu
semua partai politik dan juga organisasi kemasyarakatan diharuskan
berazas tunggal, yaitu Pancasila. Pancasila dan pembangunan
dijadikan idiologi untuk menyatukan semua potensi yang ada. Hasilnya,
konflik tidak terlalu tampak di permukaan. Selain itu, korupsi
memang ada, tetapi tidak seterbuka seperti sekarang ini.
Selain
dilakukan penyeragaman terhadap idiologi partai politik, kebijakan itu
juga menyangkut birokrasi, lambang-lambang, dan juga kebijakan secara nasional.
Semua pejabat birokrasi pemerintah diberlakukan kebijakan
monoloyalitas. Semua menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat,
hingga kepala desa diharuskan loyal sepenuhnya kepada pimpinan
sesuai dengan hirarkhinya. Seorang kepala desa harus loyal kepada camat. Camat
loyal kepada bupati atau wali kota. Wali kota dan bupati loyal kepada gubernur,
dan seterusnya. Begitu pula kepemimpinan dalam berbagai departemen, berjalan
seperti digambarkan itu. Birokrasi pemerintah pada semua
tingkatannya mengikuti garis komando pimpinan atasannya..
Gambaran zaman
orde baru tersebut berubah total setelah memasuki era reformasi.
Kebebasan terlalu berlebihan sehingga merubah tatanan politik dan sosial.
Loyalitas dan garis komando dalam birokrasi menjadi sedemikian
longgar. Pemilihan umum menghasilkan salah satu atau koalisi partai
politik sebagai pemenangnya. Akan tetapi kemenangan itu ternyata juga
tidak terlalu berpengaruh secara utuh dan menyeluruh hingga pada level di
bawahnya. Pertarungan politik pada level bawah, seperti di tingkat
propinsi, kabupaten dan atau kota, pemenangnya bisa saja diraih oleh
partai politik lainnya. Pada tingkat pusat misalnya, pemenang pemilu adalah
Partai Demokrat. Akan tetapi pada tingkat propinsi, kabupaten dan kota akan
berbeda. Jawa Tengah misalnya, pemenangnya adalah PDIP, dan begitu pula dalam
pemilihan Gubernurnya. Lebih lanjut, pada tingkat kabupaten dan kota,
keadaannya beragam. Malang Raya misalnya, antara Kota Malang, Kabupaten Malang,
dan Kota Batu pemenangnya berbeda-beda. Wali Kota Malang berasal dari
PKB, Kabupaten Malang dari Golkar, dan Wali Kota Batu dari PDIP.
Dominasi
politik yang beraneka ragam pada masing-masing daerah itu juga
sangat berpengaruh terhadap birokrasi dan bahkan juga simbul-simbul
yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh sederhana
terlihat misalnya, tatkala datang ke Kabupaten Malang maka warna kuning yang
menonjol. Kegiatan apa saja, oleh karena kepala daerah berasal dari Golkar,
maka selalu disemarakkan oleh warna kuning. Berbeda dengan
itu adalah Kota Malang dan juga Kota Batu. Oleh karena Wali kota Batu adalah
berasal dari PDIP, maka warna merah selalu mendominasi kota itu. Demikian pula,
Kota Malang, oleh karena Wali kota dan Wakil Wali Kota berasal dari PKB, maka
yang menonjol adalah warna hijau.
Pengaruh
tersebut juga tampak dari loyalitas para pejabat dalam
hirarkhi pemerintah, baik tingkat bupati, gubernur, menteri, dan bahkan
hingga presiden sekalipun. Tatkala kedatangan pejabat pada lebih atas,
maka mereka melihat dahulu latar belakang partai politik yang bersangkutan.
Manakala di antara mereka berasal dari partai politik yang sama, maka akan
kelihatan lebih keakrabannya. Seorang menteri yang berasal dari PKB akan lebih
diberi perhatian khusus oleh pemerintah daerah yang juga berasal
dari PKB. Bupati atau wali kota dari Partai Demokrat akan memberikan sambutan
lebih manakala menteri atau gubernur yang datang juga berasal dari partai
politik yang sama. Birokrasi pemerintah pun menjadi berwarna warni
tergantung partai politik pemenangnya.
Menghadapi
kenyataan dimaksud, maka kiranya para pakar manajemen lebih
tertantang dan harus berpikir lebih keras lagi, terkait bagaimana memanage
dan memimpin masyarakat yang berdemokrasi secara berlebihan itu. Memimpin
masyarakat yang diwarnai oleh kompetisi secara keras dan terbuka seperti
sekarang ini kiranya tidak mudah. Ilmu manajemen tertantang untuk merumuskan,
bagaimana kemajuan tetap berhasil diraih di tengah-tengah suasana
kompetisi dan perebutan pengaruh yang semakin tajam. Mengandalkan teori
lama, kiranya siapapun akan pesimis.
EmoticonEmoticon