logo blog

Resiko Berdemokrasi Di Era Reformasi

Keberagaman selalu menjadi ciri khas  masyarakat modern. Warna warni itu harus diakui dan dipelihara sebagai bentuk toleransi. Tidak boleh individu atau sekelompok orang memaksakan kehendaknya sendiri. Perbedaan itulah  ciri khas masyarakat berdemokrasi. Bahkan masyarakat modern memiliki anggapan bahwa perbedaan sebagai sesuatu yang indah. Akan tetapi, dibalik keindahan itu terdapat  tantangan yang tidak mudah dihadapi,  terutama oleh  para pemimpinnya. Dilain pihak, berdemokrasi berlebihan juga memiliki resiko sedemikian berat.

Pemimpin akan dianggap berhasil manakala mampu merumuskan visi, misi,  dan tradisi lalu kemudian  diikuti oleh semua yang sedang dipimpinnya. Proses untuk mencapai tujuan akan semakin cepat terlaksana ketika semua potensi digerakkan untuk menuju sasaran yang sama. Begitu pula  sebaliknya,  manakala upaya mempersatukan  tersebut gagal dilakukan,  maka tugas itu semakin berat. Apalagi di antara kelompok yang berbeda saling menganggu dan menghambat proses.  Itu menjadi salah satu gambaran komonitas berjalan di tempat bias dikatakan setaknan. Sebab, potensi atau kekuatan  akan habis hanya untuk meredam akibat negatif dari perbedaan yang mengganggu.

Oleh sebab itu, para ahli managemen mengajarkan agar para pemimpin merumuskan visi, misi,  dan perencanaan yang jelas. Dengan tujuan itu maka   semua kekuatan bisa disatukan  untuk  meraih tujuan yang dikehendaki bersama. Organisasi yang berhasil maju biasanya diawali oleh keberhasilan pemimpinnya. Sang pemimpin mampu menyatukan semua kekuatan yang berbeda. Begitu pula sebaliknya, kegagalan selalu diwali oleh adanya konflik yang tidak produktif. Masing-masing kelompok  saling menjatuhkan serta mencari kemenangan untuk mencapai keuntungan sendiri.

Pada kepemimpinan Presiden Soeharto, yang dikenal dengan zaman orde baru, perbedaan tidak terlalu diberi ruang. Bahkan  hingga menyangkut politik sekalipun. Partai politik diatur sedemikian rupa sehingga hanya  menjadi tiga partai politik saja, yaitu Golkar, PDI,  dan PPP. Ketiga partai politik itupun sebenarnya dibuat seragam,  agar tidak terjadi perbedaan yang terlalu mencolok. Keseragaman itu, setidak-tidaknya menyangkut  azasnya. Pada waktu itu semua partai politik dan juga organisasi kemasyarakatan diharuskan  berazas tunggal,  yaitu Pancasila.   Pancasila dan pembangunan dijadikan idiologi untuk menyatukan semua potensi yang ada. Hasilnya, konflik  tidak terlalu tampak di permukaan.  Selain itu, korupsi memang ada, tetapi tidak seterbuka seperti sekarang ini.

Selain dilakukan penyeragaman terhadap idiologi partai politik,  kebijakan itu juga menyangkut birokrasi, lambang-lambang, dan juga kebijakan secara nasional. Semua  pejabat birokrasi pemerintah diberlakukan kebijakan  monoloyalitas.  Semua menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat, hingga kepala desa diharuskan loyal sepenuhnya  kepada  pimpinan sesuai dengan hirarkhinya. Seorang kepala desa harus loyal kepada camat. Camat loyal kepada bupati atau wali kota. Wali kota dan bupati loyal kepada gubernur, dan seterusnya. Begitu pula kepemimpinan dalam berbagai departemen, berjalan seperti digambarkan itu. Birokrasi  pemerintah pada semua tingkatannya  mengikuti  garis komando pimpinan atasannya..

Gambaran zaman orde baru tersebut  berubah total setelah memasuki era reformasi. Kebebasan terlalu berlebihan sehingga merubah tatanan politik dan sosial. Loyalitas dan garis komando dalam birokrasi  menjadi sedemikian   longgar. Pemilihan umum menghasilkan salah satu atau koalisi partai politik sebagai pemenangnya. Akan  tetapi kemenangan itu ternyata juga tidak terlalu berpengaruh secara utuh dan menyeluruh hingga  pada level di bawahnya.  Pertarungan politik pada level bawah, seperti di tingkat  propinsi, kabupaten dan atau kota, pemenangnya bisa saja diraih oleh partai politik lainnya. Pada tingkat pusat misalnya, pemenang pemilu adalah Partai Demokrat. Akan tetapi pada tingkat propinsi, kabupaten dan kota akan berbeda. Jawa Tengah misalnya, pemenangnya adalah PDIP, dan begitu pula dalam pemilihan Gubernurnya. Lebih lanjut, pada tingkat kabupaten dan kota, keadaannya beragam. Malang Raya misalnya, antara Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu pemenangnya berbeda-beda. Wali Kota Malang  berasal dari PKB, Kabupaten Malang dari Golkar, dan Wali Kota Batu dari PDIP.

Dominasi politik yang beraneka ragam pada  masing-masing daerah itu  juga sangat berpengaruh  terhadap  birokrasi dan bahkan juga simbul-simbul yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh sederhana terlihat misalnya, tatkala datang ke Kabupaten Malang maka warna kuning yang menonjol. Kegiatan apa saja, oleh karena kepala daerah berasal dari Golkar, maka   selalu disemarakkan  oleh warna kuning. Berbeda dengan itu adalah Kota Malang dan juga Kota Batu. Oleh karena Wali kota Batu adalah berasal dari PDIP, maka warna merah selalu mendominasi kota itu. Demikian pula, Kota Malang, oleh karena Wali kota dan Wakil Wali Kota berasal dari PKB, maka yang menonjol adalah warna hijau.

Pengaruh  tersebut   juga tampak dari  loyalitas para pejabat dalam  hirarkhi  pemerintah, baik tingkat bupati, gubernur, menteri, dan bahkan hingga presiden sekalipun. Tatkala kedatangan pejabat pada lebih atas, maka  mereka melihat dahulu latar belakang partai politik yang bersangkutan.  Manakala di antara mereka berasal dari partai politik yang sama, maka akan kelihatan lebih keakrabannya. Seorang menteri yang berasal dari PKB akan lebih diberi perhatian khusus oleh  pemerintah daerah yang  juga berasal dari PKB. Bupati atau wali kota dari Partai Demokrat akan memberikan sambutan lebih manakala menteri atau gubernur yang datang juga berasal dari partai politik yang sama.  Birokrasi pemerintah pun menjadi berwarna warni tergantung partai  politik pemenangnya.


Menghadapi kenyataan  dimaksud, maka   kiranya para pakar manajemen lebih tertantang  dan harus berpikir lebih  keras lagi, terkait bagaimana memanage dan memimpin masyarakat yang berdemokrasi secara berlebihan itu.  Memimpin masyarakat yang diwarnai oleh kompetisi secara keras dan terbuka seperti sekarang ini kiranya tidak mudah. Ilmu manajemen tertantang untuk merumuskan, bagaimana kemajuan tetap berhasil diraih di tengah-tengah  suasana kompetisi dan perebutan pengaruh yang semakin tajam. Mengandalkan teori lama,  kiranya siapapun  akan pesimis.


EmoticonEmoticon