Pagi
ini (09.26 WIB, Selasa-30-Maret), diriku terduduk manis di sebuah kursi. Sambil
menikmati sarapan yang telah siap di meja. Tersirat ingatan akan tugas yang
diberikan oleh CO devisi diskusi, Agil Subangkit, untuk menjadi fasilitator
diskusi. 'Empirisme' topic diskusi yang diberikan padaku.
Tangan
kanan memegang sendok, tangan kiri memegang hape. Tangan kanan mengambil
sarapan, tangan kiri gesek-gesek hape. Hape
digenggaman pun berselancar di dunia cyber. Artikel yang diposting Aniek
pun jadi bahan bacaan. ‘Mengenal Empirisme‘ Oleh: Ari Iswahyuni, kompasiana.com.-.-.-.
Artikel
tersebut menerangkan bahwa istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empiria
yang berarti coba-coba atau pengalaman. Empirisme Sebagai doktrin adalah lawan Rasionalisme.
Aliran filsafat ini beranggapan “pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar,
hanya di peroleh lewat indera (empiri) dan empirislah satu-satunya sumber.”
Empirisme
adalah salah satu aliran yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh
pengetahuan serta pengalaman itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Empirisme
berpendirian bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indra. Indra memperoleh
kesan-kesan dari alam nyata, untuk kemudian kesan-kesan tersebut berkumpul
dalam diri manusia, sehingga menjadi pengalaman.
Tokoh-tokoh
Dalam Aliran Empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbles, Jhon Lock dan
David Home. Dalam artikel tersebut bisa digaris bawahi pendapat para tokoh
sebagai berikut.
Francis
Bacon (1210-1292 M) mengatakan bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah
pengetahuan yang diterima manusia melalui persentuhan indrawi dengan dunia
fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan sejati. Kita sudah terlalu lama
dipengaruhi oleh metode deduktif. Artinya dari dogma-dogma diambil kesimpulan,
itu tidak benar, haruslah kita sekarang memperhatikan yang konkret, itulah
tugas ilmu pengetahuan.
Thomas
Hobbles (1588-1679 M). Hobbles berpendapat bahwa sejak lama filsafat disusupi
banyak gagasan religious. Bahkan pada zaman Renainsans, banyak yang sulit
membedakan antara filsafat dan teologi. Filsafat tidak berurusan dengan
ajaran-ajaran teologis. Yang menjadi objek filsafat adalah objek-objek lahiriah
yang bergerak beserta ciri-cirinya. Kalau ada suatu subtansi yang tidak berubah-ubah
yaitu Allah, dan subtansi yang tidak bisa diraba seperti malaikat, roh dan
seterusnya maka subtansi seperti itu harus dihilangkan refleksi filsafat.
Pengalaman
indrawi sebagai permulaan segala pengenalan (introduce). Hanya sesuatu
yang dapat disentuh dengan indralah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan
intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan pengabungan data-data indrawi
belaka.
Jhon
Locke (1632-1704 M). Ia menentang teori rasionalisme, menurutnya segala pengetahuan
datang dari penglaman dan tidak lebih dari itu. Akal bersifat pasif saat
pengetahuan didapatkan. Akal tidak mandapatkan pengetahuan dari dirinya sendiri
diibaratkan ia adalah selembar kertas putih yang diberi warna oleh berbagai
pengalaman.
David
Home (1711-1776 M). Seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari
rangkaian-rangkaian kesan. Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan
bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi
dalam diri manusia dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu pemikiran
Hume ini merupakan usaha analisias agar empirisme dapat di rasionalkan terutama
dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan (observasi)
dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian
dan akhirnya pengetahuan. David Home termasuk dalam aliran empirisme radikal menyatakan,
bahwa ide-ide dapat dikembalikan pada sensasi-sensasi (ransangan indra).
.-.-.-.-.-.-.-.
Sarapan pagiku pun selesai, tanpa
menyelesaikan bacaan artikel tersebut. Setidaknya mindmaping sekolah filsafat
siap untuk dijadikan bahan diskusi esok. Kita akan berdiskusi, saya akan
berusaha untuk tidak menggurui.[]
*disampaikan pada diskusi 2 april 2015, dalam forum diskusi rutin UAPM Inovasi
EmoticonEmoticon