logo blog

Ujian Nasional Bagai Monster

Teringat akan ketakutan menghadapi UN -Ujian Nasional- sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu UN menjadi satu-satunya tolak ukur kelulusan sekolah. Ketakutan itu menjelma menjadi sesuatu positif dan negatif.

Siswa takut gak lulus, lalu merasa malu bakalan di olok-olok. Sekolah takut salah-satu siswanya gak lulus, lalu nama baik lembaga tercoreng.

Dekat dengan UN menjadikan, siswa ''tiba-tiba alim'', ''tiba-tiba rajin'',''tiba-tiba baik'', dan ''tiba-tiba yang lain''. Hal itu normal ketika dihadapkan dengan ketakutan demikian.

Acara positif yang bisa di selenggarakan yaitu do'a mengharapkan kelulusan yang dilakukan sejak 3 bulan sebelum UN diselenggarakan. Yaa mendekatkan diri pada tuhan jadi salah satu kegiatan positif yang dianjurkan pengelola sekolah. Dengan ketakutan akan UN jadi salah satu alasan acara ini berjalan secara hikmat, istiqomah(terus-menerus) dan banyak peminatnya.

Ketakutan akan UN juga terjadi saat hari pelaksanaannya. Tak jarang nyontek jadi alternatif. Meskipun sadar ini kelakuan buruk tapi ketakutan menjadikan siswa menerobos norma ini.

Nyontek saat UN sepertinya hal yang lumrah kala itu. Saya pernah mendengar jika di sekolah lain ada siswa yang dibantu pihak guru, sekolah memberikan jawaban, bahkan ada transaksi jual-beli soal dan jawaban UN.

Saat itu saya berfikir, patutkah UN diselenggarakan?. Nilai yang didapatkan saat UN hanya hasil kecurangan. Terus apa gunanya standardsasi nasional yang diharapkan pemerintah.

Dulu, saya juga berfikiran, bagaimana bisa tiga tahun belajar hanya ditentukan 4 hari saja? Dan standarnya ditentukan oleh pemerintah yang tak tahu kondisi tiap sekolah. Tiap sekolah memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Bahkan kemampuan pengajarnya pun berbeda-beda.

Seyogyanya standard kelulusan berbanding lurus dengan fasilitas yang dimiliki sekolah. Saya merasa keadaan sekolah kurang mendapatkan perhatian pemerintah, sedangkan  pemerintah menetapkan standar yang muluk-muluk. []


EmoticonEmoticon