logo blog

Seperti pada tahun tahun sebelumnya, acara silaturahmi menjadi rutinitas yang tak bisa ditinggalkan oleh keluargaku. Tak jauh berbeda dari hari raya idul fitri yang sebelumnya, aku dan keluarga pergi ke kecamatan Wajak. Di daerah inilah ibuku dilahirkan dan dibesarkan. Di sini pula banyak saudara dan kerabatku tinggal.

Setiap tahun selalu ada cerita yang berbeda. Mulai dari cerita perkembangan bisnis keluarga, pertanian, perdagangan, peliharaan ( Sapi, burung) , sampai pada persoalan jodoh jadi perbincangan hangat. Selalu ada cerita dan kisah berbeda di setiap tahunnya.

Hari ini (6 Juli), juga tak terlewatkan mampir di rumah pamanku Rozak, adik terkecil ibuku. Seperti di rumah paman dan bibiku yang lain. Ada saja yang bisa dibicarakan.

Entah bagaimana mulanya, tiba - tiba diantar perbincangan pamanku bercerita tentang makan Setuhu-Sesuko. Dua makam yang terdapat dikawasan Wajak. Yang menjadi perhatianku, ketika Cak Zak (panggilan akrabku) mengatakan jika alfabet jawa menceritakan tentang dua orang ini.

***

"Ha - Na - Ca - Ra - Ka
Da - Ta - Sa - Wa - La
Pa - Dha - Ja - Ya - Nya
Ma - Ga - Ba - Tha - Nga"

Artinya:

"Ada utusan
Saling berselisih
Sama kuatnya (jayanya)
Sama - sama mati"

Ada utusan dari salah satu dari kerajaan di jawa tengah (Mungkin kerajaan Mataram maksud Cak Zak - red). Di utus untuk mengambil keris di gunung Semeru. Setelah ditunggu - tunggu tak kunjung kembali.

Lalu yang memberikan utusan, mengutus satu utusan kembali. Utusan kedua ini juga disuruh untuk mengambil pusaka ke gunung Semeru. Disaat itu pula, utusan pertama turun dari gunung Semeru.

Kedua utusan bertemu di Petokpicis Kec Wajak. Disitu terjadi perselisihan antara keduanya. Berawal dari adu mulut. Adu argumen. Tak ada yang mengalah. Sama- sama berusaha menunaikan tugas. Hingga Mereka bertarung, adu jurus. Adu jotos. Adu kanuragan. Adu kesaktian.

Entah siapa yang unggul, entah siapa yang menang perkelahian, entah siapa yang benar, entah siapa yang salah, kenyataannya mereka berdua mati.

***

Cak Zak mengatakan, bahwa Mereka mati tak berjauhan. Jarak mayat mereka berdua kira - kira 100 meter. Saya belum sampai disana. Jadi tak bisa memastikan jauh dekat nya.

Cak Zak sudah beberapa kali sampai disana. Dulu mayat keduanya tak ada yang berani memindahkan, apalagi menguburkannya. Bisa dikatakan, jika baru - baru ini, mayat mereka di kubur. Sebelumnya cuma diberi tanda makam. Tampa dikuburkan.

Kedua makam yang ada saat ini, merupakan hasil bangunan yang tak merubah tempat mayat. Seberapa lebaran tinggi tubuh mayat. Seberapa jauh jarak antar kedua mayat. Pembangunan tersebut dilakukan atas dasar banyaknya para peziarah.

***

Aku pribadi memiliki keinginan untuk meneliti, memastikan, kroscek, mendengarkan pendapat langsung dari juru kunci. Saya sudah memiliki banyak pertanyaan untuk ditanyakan. []


EmoticonEmoticon