logo blog

Pengalaman Pertama Masuk Liang Kubur

Bayanyan itu masih terasa jelas dalam ingatan, kemarin (18/1/17) saya ikut masuk dalam liang lahat. Kejadian ini tentunya menjadi pengalaman pertama dalam hidupku. Ini kejadian nyata bukan sebuah praktek mengurus mayat.

Ketika keranda telah sampai di mulut kuburan. Banyak orang menyuruhku masuk menerima mayat dari dalam lubang -/+ 1 x 2 meter tersebut. Memang saya pernah belajar mengurus mayat. Tapi tak pernah terjun lapangan. Selain itu mayatnya adalah nenekku sendiri.

Dari banyak nya orang yang hadir di pemakaman nenekku, mereka menyuruhku melakukan itu. Antara sadar dan tidak, aku tiba-tiba sudah masuk dalam liang lahat. Mereka menyuruhku untuk mengumandangkan adzan dan diteruskan dengan iqomat.

Iqomat selesai dikumandangkan, saya tetap berdiri tegak. Meskipun kepalaku agak pusing akibat reaksi tubuhku. Mungkin hampir tak sadarkan diri.

Saya dengan postur tubuh tinggi bisa melihat tanah yang setinggi hidungku. Dan setinggi ubun-ubun dua orang disampingku. Saya memang tak sendiri berada didalam lubang kubur itu.

Keranda mayat dibuka, manusia dengan bungkus putih, saya terima. Saya turunkan berlahan hingga kedasar liang lahat. Lalu mayat saya balikkan menghadap ke kiblat. Orang-orang berbicara diatasku untuk membuka ikatan tali diatas kepala. Dan menyuruhku untuk menyentuhkan pipi kanan nenekku pada tanah.

Peroses itu saya lakukan, lalu diulurkan gumpalan tanah bundar sebesar bola kasti. Masyarakat sini menyebutnya 'lubelluh'. Setelah semuanya tertata rapi, lalu saya berdiri. Ada salah satu dari pengunjung mengulurkan tangan. Saya disuruh naik.

Sayapun naik. Saya masih bisa melihat mayat berpakaian putih tertidur di tanah. Lalu orang-orang menurunkan 'crocok' (beton pipih sepanjang -/+ 70 cm, pengganti kayu).  Dua orang di bawah menata hingga tak terlihat mayat nenekku.

Lalu sedikit demi sedikit tanah diturunkan. Terus menerus hingga lubang itu hampir rata oleh tanah. Maisan dipasang di ujung kaki dan ujung kepala. Setelah itu, bunga di taburkan diatas kuburan.

Saya masih memperhatikan makam baru itu. Makam nenekku. Seorang memimpin pembacaan Talqin diteruskan dengan Tahlil. Saya masih terduduk termenum mengikuti bacaan itu. Dalam hati berkata, "inilah akhir dari setiap kehidupan manusia".

Orang-orang mulai pulang. Tinggal bapakku masih membacakan surat Yasin, aku pun mendampingi nya. Di tengah pembacaan yasin. Bapakku menangis atas kepergian ibunya. Aku bahkan tak pernah melihat bapakku sendiri menangis seumur hidupku. Aku tetap sadar, nenekku orang yang melahirkan dan membasarkan beliau. []


EmoticonEmoticon