Aku bernama enol. Aku dikenal dengan nama itu ditempatku tinggal. Itu nama hasil rubahan masyarakat lingkunganku.
Nama ini disematkan pada diriku ketika aku sekolah SD. Ketika itu aku orang yang gemuk, Nakal, ingusan, dan memiliki kekurangan dalam dunia akademik.
Aku sadar waktu kecil, aku pernah kencing didepan kelas, Aku pernah kencing di masjid jamik. Aku juga pernah kencing didalam musholla. Aku pernah tak naik kelas. Aku orang yang sering menjadi korban bullying. Aku yang cengeng selalu nangis ketika pulang sekolah.
Guru ngajiku bilang, "pantas saja namamu enol". Ketika aku sering salah membaca.
Orang tuaku agak keras terhdapku, mungkin itu terjadi karena kekuranganku.
Enol, Sesungguhnya itu bukan namaku, namaku Khusnul, kata nul untuk nama panggilan mungkin agak sulit bagi masyarakat sekitarku. Mereka kompak memanggil ku dengan nama Enol.
Ketika aku SD, semua orang di lingkunganku meyakinkanku itu nama yang salah. Nama tampa perhitungan, pemberian nama asal-asalan. Nama yang salah. Aku menyerap itu sedikit demi sedikit.
Nilai raportku sering jelek, bahkan sering berada diangka terakhir ranking kelas. Aku pun menyesali nama itu ketika SD.
SMP kelas satu, aku jarang masuk kelas. Terpengaruh teman yang sering bolos. Saya masih menyimpan sugesti namaku adalah kesalahan dan itu tertanam hingga alam bawah sadarku.
SMP kelas dua, mata pelajaran Matematika memberitahu jikalau enol termasuk angga imajiner. Angka imajiner yang lain adalah satu. Dua angka ini unik, apalagi ketika dihadapkan pada perkalian.
Waktu kuliah, saya mendapati jika dua anggka imajiner tersebut memiliki filosofi yang mendalam dalam hidup ini. Angka Satu mengartikan zat Tuhan, Maha tunggal, Maha Esa, Tak ada yang menyamainya dan satu-satunya zat menciptakan dunia ini.
Enol memiliki filosofi, perwujudan manusia, pasrah, iklas, mau dibentuk sesuai dengan kehendak pencipta. Enol bisa dikalikan dengan angka apa saja, tetapi tetap enol. Keteguhan, kegigihan, tak mau dirubah oleh angga apapun.
Selain itu, angka imajiner tersebut juga terbentuk dalam beberapa teknologi tuhan dan manusia. Teknologi tuhan: pada dasar setiap gen/genetika itu dibentuk dengan simbol enol dan satu. Ini hasil penelitian (kata mereka).
Teknologi manusia: Bahasa pemerograman dasar, itu dibentuk dengan angka imajiner. Sebelum ditemukan bahasa pemerograman seperti PHP, HTML, C++, dan lain-lain. Para pakar teknologi menggunakan angkat imajiner ini, satu dan enol.
Setelah memahami angka imajiner tersebut, saya merasa berbangga dengan nama ini. Nama enol, tak seperti orang lingkunganku fikirkan. Tapi ini nama yang luar biasa tak mudah mendapatkan nama secara otomatis memiliki arti filosofis yang sangat mendalam.
Alhadullillah, aku bisa membuktikan kegigihanku. Aku bisa kuliah dengan bantuan beasiswa untuk keluarga tak mampu. Berhasil lulus dari dua Universitas terbaik di kota Malang yaitu UIN Maliki Malang dan Unibraw Malang.
Aku masih menjadi orang yang pasrah. Saat ini aku nganggur. Aku sosok pengangguran. Tetapi, Aku punya keinginan untuk membuktikan kuliah itu banyak manfaatnya. Sebab, Masyarakat sini rata-rata tak memperdulikan pendidikan. Aku ingin membuktikan pendidikan itu berpengaruh pada ekonomi. Aku miris teman sebayaku berhenti ketika kelas dua SMP. []
EmoticonEmoticon