Sebuah mimpi di masa lalu. Mimpi untuk bisa kuliah di kampus ternama. Tetapi kala itu, mimpi untuk kuliah rasa-rasanya mustahil. Bukan menghayal tetapi berusaha berfikir logis. Berfikir waras dengan keadaan yang sesungguhnya.
Logikaku berkata, kuliah membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sekolah saja, harus nunggak pembayaran SPP hingga berbulan-bulan. Aku sadar, aku berasal dari keluarga tak mampu.
Kala itu, waktu tinggal di pondok pesantren. Jatah uang jajan hanya antara Rp 5.000 hingga Rp 20.000 per minggu. Aku harus berfikir untuk menghemat uang jajan.
Kala itu, aku memiliki harapan untuk mendapatkan beasiswa. Aku membayangkan dengan sungguh-sungguh merasakan duduk di bangku kuliah. Mengikuti semua penjelasan, melaksanakan semua tugas kuliah, aku ingat sekali, aku menyebut tugas kuliah sebagai PR (Pekerjaan Rumah). Maklum kala itu tak tahu istilah tugas kuliah, yang ku tahu hanya istilah PR.
Aku bukan sosok yang pintar di sekolah. Buktinya, aku tak pernah mendapatkan peringkat 1 2 3. Biasanya aku berada di peringkat 7, 8 dan 9 dari 26 teman sekelas. Logikaku berkata, tak mungkin untuk mendapatkan beasiswa. Beasiswa hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang pintar. Tapi aku hanya bisa membayangkan bisa kuliah.
Suatu ketika, kala itu guruku bernama Bahrul Ulum, mengajak berbincang 4 mata. Dia melakukan itu pada seluruh siswa di kelas. Dia menggilir satu per satu siswa kelas XII MARU2. Dia mungkin menanyakan hal yang sama padaku dan teman ku. "Setelah lulus sekolah, mau ngapain?".
Pada saat giliranku, aku menjawab seadanya. Aku jawab sejujur-jujurnya. Aku jawab dengan sungguh-sungguh, bahwa aku ingin kuliah tetapi keadaan ekonomiku tak mendukung untuk itu. Keadaan ekonomi seperti nya tak mungkin menjadikanku memcicipi bangku perkuliahan.
Aku suka dengan responnya. Dia bilang, aku punya potensi, aku bisa kuliah. Dia menyebutkan banyak sekali beasiswa yang bertebaran saat ini. Apalagi ketika itu, president SBY memiliki program 20% dana APBN untuk pendidikan. Dana tersebut diperuntukkan untuk keluarga kurang mampu secara ekonomi. Dia juga bilang, salah satu buktinya pak Misbah dan pak Bahrul sendiri mendapatkan beasiswa S 2.
Akibat kejadian itu, aku pun merasakan angin segar. Seperti nya kejadian itu menjadi salah satu motivasi untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Aku menjadi seorang sosok optimis untuk mendapatkan beasiswa.
Aku pun ingat salah satu perkataan motivator di TV. Untuk memperbaiki keadaan ekonomi ada dua cara. Pertama dengan pendidikan dan kedua dengan kewirausahaan. Aku pun semakin yakin bisa kuliah, seperti yang aku bayangkan dulu.
Kini aku sangat bersyukur bisa menyandang dua gelar sarjana dari dua kampus WCU (World Class Universiy). Yaitu Sarjah Hukum Islam dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan Sarjana Hukum dari Universitas Brawijaya Malang. Di UIN Maliki Malang aku mendapatkan beasiswa Bidikmisi 4 Tahun bebas SPP dan mendapatkan living cost Rp 3,6 juta per semester.
Aku harus menyelesaikan perkuliahanku di semester 10. Karena mengikuti program Doble Degree, program gelar ganda kerjasama antara Fakultas Syariah UIN Maliki Malang dan Fakultas Hukum Brawijaya. Aku masih merasakan pahitnya membayar SPP 2 semester. Aku pun juga harus membayar SPP di 2 kampus. Bagiku dan keluargaku, ini bukan hal yang murah. Aku pun harus hidup pas-pasan di tengah kota Malang.
Masih teringat jelas, di akhir perkuliahanku uang saku dijatah Rp 50 rb per minggu, untuk bensin dan makan. Makan bawa beras dari rumah, dengan dibantu rice cooker. Tiap bulan masih harus bayar uang PDAM dan Listrik.
Setelah sidang skripsi pun, aku meninggalkan proses persyaratan pemenuhan wisuda di Unibraw Malang. Maklum, kampus elit ini biaya kuliahnya sangat mahal. Aku pun bekerja di PT. Bank Pengkreditan Rakyat Armindo Kencana sebagai AO atau Account Officer. Setelah bekerja 2 bulan, aku resign dan menyelesaikan program perkuliahanku.
Aku sangat bersyukur sekali bisa belajar di dua kampus elit ini . Aku bersyukur sekali bisa mendapatkan gelar S.Hi, S.H. Terima kasih Guru-Guruku, Terima kasih Dosen-Dosenku, Terima kasih Bidikmisi, Terima kasih semua dan Terima kasih tuhan. []



EmoticonEmoticon