Babarapa hari yang lalu. Ketika kegelisahan melanda. Pekerjaan mulai tak menarik dan Terlalu banyak pertanyaan tentang jodoh dan waktu pernikahan. Aku putuskan berdiri diatas sajadah. Sholat beberapa rakaat dan memohon petujuk pada sang Disingner alam.
Dengan siapa?
Bagiku ketenangan adalah jawaban terbesar dalam prosesi itu. Ketika aku benar-benar merasakan ketenangan. Disitulah jawabanya. Saya tenang dengan berfikir.
Ketika sampai waktuku, semua akan berjalan mudah, bertemu dengan mudah, prosesnya akan mudah, tak ada kesulitan apapun.
Dengan siapa? Dengan seseorang yang akan membuatku bahagia. Ukuran kebahagian tertinggi bisa diukur dengan rasa syukur, sebab bicara cantik akan ada langit diatas langit. Bicara harta, akan ada gunung emas kedua. Bukan cantik ukurannya, bukan harta ukuran kebahagian, tetapi rasa syukur yang bertambah ketika bertemu dengan nya.
Dua kata kunci yang ku temukan, syukur dan mudah.
Saya akan bersyukur mendapatkan nya. Dia akan bersyukur mendapatkan ku. Hidup kita akan selalu bahagia. Karena kita akan selalu bersyukur.
Lalu ketika waktunya tiba, tiba-tiba akan mudah. Prosesnya tak akan dramatis. Tak perlu berdarah-darah. Tak perlu air mata. Tak perlu banting tulang, kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki. Semua akan berjalan dengan mudah. Seperti apa kata Bondan, "smuth seperti tampa geralakan".
Syukur termasuk salah satu maqom atau tingkatan dalam Sufisme. Orang dengan tingkatan ini termasuk orang yang beruntung. Pastinya karakter hidupnya, selalu bahagia dan mampu membahagiakan orang lain.
Syukur tak bisa diukur seperti cantik dan harta. Syukur tak bisa dilihat, tak bisa didengar tapi bisa dirasakan. Orang dengan karakter syukur, bisa dilihat orangnya, bisa didengar cara bicaranya, biasanya itulah cerminan syukur.[]
Baca juga:
Pengalaman Pertama Masuk Liang Kubur
Status Jomblo Dan Propaganda Sosial
Baca juga:
Pengalaman Pertama Masuk Liang Kubur
Status Jomblo Dan Propaganda Sosial

EmoticonEmoticon