logo blog

Manusia Di Atas Normal

Ini hati atau bandara?

Seseorang bisa singgah.
Lalu pergi.
Sepertinya, ini hati bagai bandara.


Retorika hati.

Retorika tubuh.
Harus terlihat ekslusif.
Bagi manusia di atas normal.


Cinta saja tidak cukup.

Pintar saja tidak cukup.
Fesionebel saja tidak cukup.
Apalagi cuma beda kelamin.


Cinta terbaik jatuh pada perempuan pintar.

Ketika ngomongin filsafat, aku gak nyambung.
Wajahnya tak cantik.
Tapi, saya kagum pada perjuangannya.

Dia rela berjalan ratusan kilo, 

bawakan nasi bungkus ke kontrakan, 
aku tak tahu jika dia sedang delepen, 
hanya gara-gara aku bilang, 
"aku lapar dan aku tak punya uang"
Hubungan kita berakhir gara-gara nilai IP jeblok, Non sense.


Pernah hati ini disinggahi seorang penari.

Penari jaranan.
Bodi langsing.
Wajah lumayan.
Anak tugas PSG SMK,
Bertemu di PA TA saat PKLI.
Hubungan ini menarik.
Selesai PKLI selesai pula hubungan kita.


Coba cari yang fesionebel.

Dapat sii, tapi tak bertahan lama.
Yang diobrolin, pakai, musik, film.
Ketika ngomong kuliah,
Leewaaat.
Gak nyambung sama sekali.
Dari pada aku ketularan telat lulus.
Aah... Mending Aku jomblo aja.


Hati ini sedang terisi oleh seorang wanita.

Cantik, Putih, tinggi dan cukup untuk dibilang seksi.
Retorika menariknya feminisme.
Cerminan aktifis, politisi dan memiliki keunggulan otak kanan.
Tantangan yang paling bikin nyesek,
Dikelilingi cowok-cowok, dan
Lipatan masalalu.

Aku tak perlu berjuang.

Jika di hatinya ada aku,
Dia akan kembali.
Jika hatinya terisi orang lain,
Aku siap pergi.
Aku mendapatkan sinyal kuning.
Atau hubungan kita akan sangat dramatis.


Aku manusia diatas normal.

Tak asal cantik.
Tak asal pintar.
Tak asal fesionebel.



Lebih suka pada cewek menunjukkan berjuang.
Yang Bisa jadi perhiasanku.
Yang Bisa jadi bidadari syurgaku.

Bagiku setiap hubungan adalah kehormatan.

Tak bisa dibeli dan tak bisa dijual.
Aku berjalan diatas takdir.
Setiap hubungan memberiku bekas.[]

Baca Juga:
Manusia Di Atas Normal
Perang Dunia Ketiga Dan Tujuannya


EmoticonEmoticon