Sore ini grimis. Si Arif, Ponakan yang berumur sekitar 6 bulan terus berkembang. Dia telah tengkurap berusaha untuk merangkak. Aku kagum atas perjuangannya.
Dia berusaha untuk merangkak. Tapi tangannya masih belum bisa digerakkan ketika tengkurap. Hanya kakinya yang menendang-nendang. Melihat tingkahnya yang lucu bikin diriku suka menggodanya.
Aku lihat si Arif, bukan pribadi cengeng. Dia lebih terlihat ceria jika dibandingkan adikku waktu kecil. Adik perempuan ku, ibunya si Arif, hampir tiap malam nangis. Sering kali ketika itu aku terbangun ditengah malam.
Aku lihat bayi adikku, lebih tangguh dari pada adikku sendiri. Aku sadar setiap orang memiliki perbedaan. Itulah sebabnya setiap manusia unik.
Aku bisa lihat, setiap manusia memiliki kepribadian tangguh. Ketika seorang bayi ingin berjalan membutuhkan proses yang panjang. Sang bayi harus tengkurap, mengangkat kepalanya, merangkak, lalu belajar berjalan.
Proses itu tak mudah. Sang bayi harus mengalami yang namanya terjatuh bangun. Jika bukan karena pribadian tangguh pada manusia, mungkin tak ada orang berjalan di atas dua kakinya.
Aku melihat setiap manusia memiliki kepribadian tangguh. Tapi entah mengapa ketika dewasa sering menjadi pribadi tak brrmental baja.
Analisi dari sebagian pelajar. Seorang ketika bayi otak analitisnya belum terbentuk. Semua yang dilakukannya berdasarkan keinginan insting. Otak analitis ini yang menjadi kendala mentalitas kritis. Terlalu banyak pertanyaan ketika menginginkan sesuatu.
Sadar atau tidak, setiap pendidikan sejak SD hingga Kuliah, semunya digunakan untuk meningkatkan otak analitis. Jangan salah jika orang setelah kuliah lebih bermental lemah. Keinginannya nyata, tapi setiap analisisnya membuatnya berhenti bergerak. []
EmoticonEmoticon