Pujian itu masih membekas.
Membekas dalam ingatan.
Keluar dari mulut adik tingkat.
Sosok cewek pintar hingga dia dapat S2 di Australia.
Wajahnya cantik.
Tubuhnya proporsional.
Tak lebih tinggi dari ku.
Ku mengenalnya sejak 2011.
Bagiku dia teman spesial.
Aku tahu latar belakang keluarga nya.
Aku tahu dia yatim - piyatu.
Mendengarkan kisah keluarganya bisa bikin nyesek.
Aku pernah mengantarnya dari kampus ke Gondanglegi.
Banyak cerita yang bikin aku takjup pada nya.
Meski aku dipanggil mas Kece.
Nyatanya, dia bukan tipe orang mudah dirayu.
Tipe cewek religius.
Kuliah sambil mondok.
Aku tak pernah tahu pacarnya.
Mungkin bukan tipe orang suka pacaran.
"Mas Kece."
"Aku bareng samean pulang ee yo?"
Aku tak mampu menolaknya.
"Iyo dek" Aku tak mampu menolaknya.
"Sebenerre tadi udah janjian sama habibi, Tapi kita beda arah, Aku kasihan sama dia." tuturnya.
"Looh... Kalo janjian sama habibi, gak apa-apa taa si habibi?" sahutku langsung.
"Gak apa - apa mas," jawab nya.
Ketika aku lihat habibi.
Wajahnya melas tampak sosok tegar.
Matanya nanar.
Bagai bercak air tersinar cahaya.
Aku tak bisa menolaknya.
Dia sudah buat pilihan.
Kita tak ada hubungan sepesial (pacar/TTM).
Hanya teman karib.
Teman organisasi KBMB.
Teman saling tanya,
Kapan living kost beasiswa cair?
Kenapa masih dibintangkan?
Bagiku dia cewek religius.
Hambir setiap pembicaraan mengadung unsur syariat agama.
Terlihat sekali sosok wanita taat agama.
Hingga aku sering terbawa situasi ketika sharing.
EmoticonEmoticon