logo blog

Rasa Yang Tersisa

Harapku kau disini.
Menemani setiap langkahku.

Aku tahu, aku orang keras.
Tetapi dirimu mampu meluluhkannya.
Apa rahasiamu?
Sabar kah sebagian dari rahasiamu?

Kini kau membelakangiku.
Apa mau mu?
Meluluhkan diriku.
Lalu mengangkat dua jari.

Kau menatap jalan yang panjang.
Itukah Jalanmu?
Jalanmu masih panjang?
Sombong mu tak melihat siapa dibelakangmu.

Kau acungkan dua jari.
Telunjuk dan jari tengah.
Keduanya berdampingan.
Terdapat celah diantara keduanya.

Aku tahu simbol itu.
Aku tahu inginmu.
Kau akan melangkah, jalanmu masih panjang.
Kau ingin meninggalkan aku.

Mungkin kah tujuanmu merusak diriku?
Memberi harapan palsu.
Aku terbujuk.
Lalu kau pergi.

Atau mungin, menunjukkan kekuasaanmu.
Kau berkuasa.
Kau perempuan yang tangguh.
Tetapi, Ilmu feminismu menimbulkan banyak korban.

Ku akui.
Kau pandai bersilat lidah.
Retorikamu mampu menghipnotis subjek kedua.
Kau permainkan, lalu kau tinggal kan.

Kau bermain cantik.
Aku menjadi korbanmu.
Aku menjadi korban harapan palsumu.
Aku tahu, aku menjadi korban.

Apapun perbuatanmu.
Ada yang tersisa.
Sakit, perih, sedih.... Akibat ulahmu.
Aku menyebutnya rasa yang tertinggal.[]

Baca juga:
Manusia Di atas Normal
Calon Bidadari Surgaku
Ketika Tiba Waktu Itu


EmoticonEmoticon