logo blog

Insomnia

Anganku terbang.
Ragaku rebahan.
Bersembunyi dibalik selimut dan jaket tebal.
Bersembunyi dari dinginnya malam.

Suara ayam mulai berkokok.
Menandakan, waktu menjelang pagi.
Anganku tetap terbang.
Seakan tak mau kembali.

Mata ini tak lelah terjaga.
Tetap saja tak mau diajak tidur.
Lelah?
Tidak.
Ngantuk??
Tidak sama sekali.

Ini bukan efek kopi dua gelas.
Tapi ini efek falsafah kehidupan.
Diskusi malam yang membingungkan.
Mencari hakikat kehidupan.

Mungkin saya melakukan kesalahan.
Tujuannya mencari kebijaksanaan.
Bukan keputusan yang ku dapat.
Malah mendapatkan kebingungan.

Kadang logika kalah dengan perasaan.
Kadang juga perasaan kalah dengan logika.
Kadang keduanya beriringan.
Kadang keduanya berseberangan.

Aku merasa gila.
Atas nama perasaan.
Melakukan hal-hal gila.

Serapi apapun bangkai ditutupi,
Baunya akan menyebar kemana-mana.
Setiap fakta,
Selalu ada peristiwa.

Kritis?
Negatif thinking?
Kadang itu perlu.
Asal berdasarkan fakta yang ada.

Kenyataannya logika telah kalah oleh perasaan.
Bukan berarti perasaan menang.
Tapi logika masih jadi panduan kedua.

Berbekal Semiotika, Psikologi, Bodilanguage,
Dengan dipadu dengan analisis kritis, emirik...
Tujuannya cuma satu,,
Aksilogi terbaik...

Prediksi masa depan itu penting.
Meskipun takdir, akhirnya tuhan yang tentukan.
Ini masalah masa depan.
Tentu saja, saya rela tak tidur.

Bingung?
Tentu saja.
Pilihan tetap ada.
Tapi sekarang saya lebih memilih bingung.
[]


EmoticonEmoticon