Aku bagaikan air.
Melewati celah bebatuan.
Melewati jalan bergelombang.
Bisa masuk diantara pori-pori bumi.
Bisa melewati sungai besar dan kecil.
Hingga akhirnya, aku kembali ke samudra.
Aku bagaikan uap.
Dipanasi mentari.
Naik ke langit.
Diterbangkan kesegala penjuru dunia.
Aku bagaikan hujan.
Jatuh dari langit...
Membasahi bumi.
Memberi kehidupan gersangnya bumi.
Takala angin barat bertiup.
Aku pun hanya bisa menjadi embun.
Sejuk, dingin, dan murni.
Aku pun menempel didedaunan.
Kadang aku merasa sombong.
Bisa mematikan kobaran api.
Merasa lebih baik dari api.
Aku merasa, Aku tak akan kalah oleh api.
Sombong...
Yah.... Sombong.
Sifat Iblis yang tak dimaafkan tuhan.
Sekecil apapun rasa sombong, pasti akan dibakar dalam neraka.
Iblis berjanji akan selalu menggoda manusia.
Sifat alami manusia menjadi senjata utamanya.
Nafsu, hasrat, ingin tahu, ingin ini, ingin itu,
Hingga akhirnya berteman dengan Iblis di neraka.
Saya berada diantara rasa sombong.
Merasa lebih baik.
Merasa paham agama.
Tapi enggan menjalankannya.
Siklus air tak mampu membakar mentari.
Samudra tak mampu memadamkan matahari.
Sombong...
Heh??
Air berada diantara dua peran.
Menghidupkan tumbuhan.
Dan mengikuti siklus kehidupan.
Kadang bisa terbang.
Kadang jatuh diantara pepohonan.
Tapi air selamanya tak akan memadamkan matahari.
[03.00 Wib, 25 September 2016]
Tak bisa tidur
EmoticonEmoticon